Ledakan besar dilaporkan terdengar di dekat gedung Kementerian Luar Negeri Iran, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.Serangan Israel ini terjadi beberapa jam setelah Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengkonfirmasi peluncuran rudal balistik ke pangkalan udara Ramat David Israel.
IRGC menyatakan bahwa serangan mereka adalah respons terhadap
pembunuhan dan pengungsian massal di wilayah Tyre dan Nabatieh di Lebanon selatan, yang merupakan akibat dari agresi Israel yang sedang berlangsung.
Menurut laporan Al Jazeera, IRGC menyatakan bahwa operasi tersebut adalah "peringatan" dan jika agresi berulang, tanggapan akan lebih luas dan akan mencakup semua target Amerika-Zionis di wilayah tersebut.
Mohsen Rezaee, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, juga menegaskan di X bahwa Iran tidak akan mentolerir pelanggaran gencatan senjata dan agresi terhadap Lebanon, dan bahwa setiap tindakan baru akan dibalas dengan tanggapan yang lebih menghancurkan.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan akan menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mendesaknya agar tidak membalas serangan Iran.
Trump menyatakan bahwa serangan Iran tidak melukai siapa pun dan berharap Israel tidak akan membalas, untuk menghindari siklus kekerasan yang berkelanjutan.
Ia juga menambahkan bahwa AS sangat dekat dengan kesepakatan akhir dengan Iran dan tidak ingin hal itu hancur karena peristiwa saat ini.
Konflik antara Israel dan Iran telah meningkat secara signifikan sejak 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran, menargetkan situs militer dan pemerintah serta membunuh pejabat Iran.
Iran membalas dengan serangan terhadap Israel, pangkalan AS, dan negara-negara Arab sekutu AS di Asia Barat, serta menutup Selat Hormuz, yang mengganggu perdagangan global.
Serangan terbaru ini menggarisbawahi ketegangan yang terus-menerus di kawasan tersebut, dengan kekhawatiran internasional yang meningkat mengenai potensi eskalasi lebih lanjut.
0 Komentar